Perjalanan Syafrudin Lamudja Raih Cumlaude: dari Tukang Ojek hingga Cleaning Service

Syafrudin Lamudja bersama kedua orang tuanya. (Foto: Yanti Antoni)

Kalabahi – Hasil adalah jawaban dari ikhtiar yang dijalani. Begitu kira-kira ungkapan yang pas untuk salah seorang lulusan terbaik pada Wisuda Perdana Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Kalabahi yang dilaksanakan pada tanggal 30 November 2019 di Aula Hotel Nusa Kenari Kalabahi.

Dialah Syafrudin Lamudja, yang sempat menunda niatnya menjadi mahasiswa selama 6 tahun setelah lulus dari MAN Kalabahi. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika ini lulus dengan IPK 3,88 dan menyandang predikat Cumlaude, terbaik pertama dari 114 mahasiswa yang diwisuda pada tahun 2019 ini.

Menjadi mahasiswa yang lulus dengan status cumlaude adalah hal biasa yang terjadi di setiap kelulusan pada perguruan tinggi.  Namun yang menarik adalah bagaimana perjalanan untuk sampai di tahap itu.

Syafrudin yang lulus dari MAN Kalabahi tahun 2009, mencoba keberuntungan dengan mengikuti tes masuk sebagai seorang tentara, tapi hasilnya belum memuaskan. Uke, begitu dia disapa, kemudian memutuskan untuk mencari pekerjaan dengan niat membantu kehidupan keluarga.

Ojek menjadi pilihan pertama, digelutinya selama beberapa waktu. Pendapatan yang tidak pasti karena bergantung pada ramai tidaknya penumpang, membuat Uke mencoba lagi untuk bekerja di sebuah usaha fotocopy. Sekalipun demikian, Uke tetap menjadi driver ojek ketika bertemu dengan penumpang di jalan (karena bukan ojek online).

Enam tahun bergelut sebagai pegawai fotocopy dan tukang ojek, pada tahun 2015 Uke memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di STKIP Muhammadiyah Kalabahi, yang saat itu baru awal-awal diresmikan.  Bersama dengan mahasiswa lainnya, Uke menjalani aktivitasnya sebagai seorang mahasiswa. Pun tetap tidak mengubah statusnya sebagai seorang tukang ojek.

Anak bungsu dari pasangan suami istri Rahman Lamudja dan Saiya Djuru ini tetap bekerja, karena dia tidak bisa berharap banyak dari ayahnya yang hanya bekerja sebagai nelayan dan juga membantu mengurus jenazah (di Alor, ini tidak menjadi pekerjaan karena semuanya dilaksanakan secara ikhlas), juga ibunya yang hanya sebagai penjual kue di pasar.  Harus ada biaya yang dikeluarkan untuk kuliahnya dan juga membantu kebutuhan sehar-hari dirumah.

Dalam perjalanan, pada tahun 2016 Uke pun mencoba menawarkan diri bekerja sebagai cleaning service di kampus.  Setelah diterima, semakin ekstra waktu harus dibagi. Antara kuliah, bekerja di kampus, dan harus mengantarkan juga menjemput ibunya ke pasar.

Suka dan duka dijalani bersama di kampus, walau dengan bayaran yang terbilang tidak besar.  Uke harus datang lebih awal ke kampus, dan pulang lebih telat. Kadang-kadang harus menginap di kampus kalau terlalu lelah bekerja, karena Uke tidak hanya bekerja membersihkan ruangan, tapi juga terlibat aktif membantu pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Perjalanan dan perjuangan panjang itupun berbuah hasil.  Bersama dengan 114 mahasiswa lainnya, telah dinobatkan sebagai seorang sarjana lewat prosesi pengukuhan wisudawan/wisudawati.

Haru dan bahagia terpancar dari wajahnya, ketika dipercayakan membacakan ikrar wisudawan untuk diikuti oleh teman-temannya.  Rasa haru itupun tidak bisa dihindari oleh ayah dan ibu yang menjadi pendamping wisudanya.

Alhamdulillah saya sampaikan kepada Allah SWT. Saya tidak menyangka ketika diumumkan kalau saya keluar sebagai wisudawan dengan predikat terbaik.  Sekali lagi saya hanya bisa bersyukur kepada Allah karena Dia yg mempunyai kuasa untuk saya memperoleh hasil ini.  Saya juga tentu tidak lupa untuk berterima kasih kepada kedua orang tua atas doa dan restunya,” demikian ungkap Uke. (Raspa Abdullah)