Berkenalan dengan Suku Abui di Kabupaten Alor

Mama-mama Suku Abui mengenakan pakaian adat untuk menyambut wisatawan yang datang ke kampung mereka. (Foto: Kemenparekraf)

Takpala, Alor- Kabupaten Alor memiliki potensi wisata yang menarik. Bagi kalian yang ingin mengunjungi desa-desa wisata, Desa Takpala di kota Alor mungkin menjadi salah satu rekomendasi yang bisa kalian kunjungi.

Desa ini merupakan sebuah kampung tradisional yang berada di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Lokasi kampung Takpala ini berada di atas bukit dan dihuni oleh kurang lebih 13 kepala keluarga Suku Abui.

Salah satu keunikan Suku Abui berupa pakaian tradisional yang ditenun dengan alat tradisional menggunakan tangan. Pakaian itu mereka gunakan untuk menyambut wisatawan yang datang ke kampung mereka, sambil menari lego-lego.

Penari-penari di sana biasanya mengenakan busana kain sarung dan kain tenun khas Alor. Untuk para penari pria, mereka menggunakan penutup kepala yang dibentuk dari kain, dan rambut penari wanita dibiarkan terurai. Selain itu, para penari dilengkapi dengan gelang kaki yang menghasilkan bunyi mengikuti langkah kaki para penarinya.

Suku Abui

Yang sangat menarik dan mengesankan dari suku Abui ini adalah, mereka memiliki keramahtamahan yang luar biasa. Jika Anda berkunjng maka masyarakat suku Abui ini akan segera menjamu Anda, ketika Anda tiba di pedalaman Nusa Tenggara Timur ini.

Untuk menuju Desa Takpala, pengunjung dapat menggunakan kendaraan bermotor dengan menempuh  jarak 11 kilometer dari Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor atau kurang lebih 30 menit untuk sampai di sana.

Bila tertarik mengenakannya baju penari, wisatawan juga bisa menggunakan atau menyewa pakaian adat lengkap dengan aksesoris kepala dan gelang kaki. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri, yang memikat wisatawan untuk berfoto dengan latar yang sangat natural termasuk rumah-rumah Lopo- yang terbuat dari bambu dan alang-alang berbentuk piramida. Untuk sewa pakaian, masyarakat di sana belum memberlakukan tarif yang baku.

“Seikhlasnya saja. Tapi biasanya ada yang ngasih sebesar Rp50.000 bahkan lebih,” kata Sonny yang bekerja di Dinas Pariwisata Kabupaten Alor.