Bangtowo, Kampung Adat di Surga Timur Matahari

Di Kampung Adat Bangtowo, pengunjung akan merasakan sensasi hidup di masa silam tanpa modernisasi. (Foto: Alor Island)

Kabola – Alor, pulau di ujung timur Nusa Tenggara Timur yang dijuluki para pelancong Surga di Timur Matahari, merupakan satu dari 92 pulau terluar Indonesia. Alor berbatasan langsung dengan Timor Leste di sebelah selatan. Selain populer sebagai wisata selam, Alor juga diberkahi pesona di daratnya, salah satunya adalah kampung adat.

Salah satu kampung adat tersohor di Kabupaten Alor, terletak di Desa Kopidil, Kecamatan Kabola, bernama Kampung Tradisional Bangtowo. Kampung adat ini berada tidak jauh dari Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor. Untuk sampai ke kampung ini, kita hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit menggunakan kendaraan roda dua atau empat dari Kalabahi.

Dilansir dari akun instagram alorisland, nama Bangtowo menurut bahasa daerah setempat berarti tiga kampung, yaitu Kampung Uang, Wabuli, dan Alibang. Pemilik kampung ini adalah keluarga Djahalobang. Bangtowo memiliki tiga buah rumah gudang yang dibangun mengelilingi mesbah, dan lima buah lopo yang letaknya berhadapan langsung dengan panorama alam Teluk Kabola.

Meski demikian, daya tarik Bangtowo mulai terlihat. Berdasarkan data kunjungan yang disampaikan Nicholas Djahalabong, sang ketua kelompok, jumlah pengunjung hampir mendekati 100 orang setiap minggu. Memang yang masih mendominasi adalah wisatawan lokal, tetapi wisatawan asing dan domestik pun sudah mulai berdatangan ke Bangtowo.

Di kampung ini, kita bisa menggunakan pakaian tradisional yang terbuat dari kulit kayu untuk sekadar berfoto. Pakaian kulit kayu yang disiapkan di Bangtowo lumayan banyak. Adalah Yan Djahalabong, sang pendiri kampung, yang juga menyiapkan pakaian tradisional dari kulit kayu. Pakaian itu dipisahkan, ada yang dikhususkan untuk disewakan, ada pula yang diperuntukkan anggota sanggar bisa hendak melakukan atraksi tarian Lego-Lego maupun Cakalele.

Tarian Lego-Lego dan Cakalele ialah tarian yang dilakukan untuk menyambut kedatangan tamu. Tarian ini dilakukan kira-kira oleh 20 orang dengan bergandengan tangan seraya membentuk sebuah lingkaran dan bergerak mengelilingi mesbah (batu bersusun) yang di atasnya disimpan moko. Tariannya diiringi tetabuhan gong dengan penari lelaki akan bersyair dan mengenakan perlengkapan adat termasuk senjata.

Sensasi Hidup Masa Silam di Bangtowo

Selain menari, hal lainnya yang bisa dilakukan yaitu mencoba bermain panahan. Busur dan panah merupakan buatan mereka sendiri yang diambil dari buluh yang lentur. Akan tetapi, jangan salah, meski terbuat dari bambu, panahnya sangat tajam dan mampu menancap di batang pohon sekalipun. Wajar saja, sebab busur dan panah tersebut juga terkadang mereka gunakan untuk berburu.

Tidak hanya itu, para pria Bangtowo juga akan menunjukkan bagaimana mereka membuat api secara tradisional dengan menggunakan bambu dan batu yang permukaannya saling digesekkan, persis ketika zaman nenek moyang dahulu membuat api.

Jika ingin mengunjungi desa-desa adat yang ada di Alor, Anda dapat menghubungi Dinas Pariwisata Kabupaten Alor terlebih dahulu untuk dibantu agar dapat melihat serta ikut menari tarian Lego-Lego dan Cakalele. Berkunjunglah ke Bangtowo dan Anda akan merasakan sensasi hidup di masa silam tanpa modernisasi. Berbagai atraksi budaya, lingkungan sekitar, serta kehidupan sosial warga setempat akan mengajarkan Anda tentang cara bersahabat dengan alam dan gaya hidup sederhana tanpa kemewahan.