Berencana Liburan ke Alor, Ini Pilihan Waktu Terbaik

Keindahan Pulau Sika, Kabupaten Alor. (Foto: Alor Island)

Pulau Sika – Bagi para pencinta kegiatan menyelam, Kabupaten Alor di Nusa Tenggara Timur menjadi pilihan tepat sebagai destinasi wisata. Namun, ada beberapa hal yang perlu diketahui sebelum mengunjungi destinasi wisata selam kelas dunia ini. Jangan sampai salah memilih waktu kunjungan. Alih-alih menyelam, bisa-bisa kita malah berdiam di penginapan.

Pelaku wisata sekaligus aktivis lingkungan di Alor Onesimus Laa merekomendasikan bagi para penyelam agar berkunjung di antara bulan Mei-Juli, karena di bulan tersebut ombak cenderung lebih tenang. Musim hujan yang mengakibatkan cuaca dan ombak yang cukup besar di Alor jatuh pada Desember-Maret. Namun karena faktor cuaca yang tidak menentu, terkadang di bulan Oktober, Alor sudah dilanda hujan deras.

“Waktu terbaik untuk ke Alor itu bulan Mei, Juni, dan Juli karena ombak lebih tenang,” terang Onesimus.

Namun demikian, pada bulan Mei-Juli merupakan high season atau puncak kunjungan tertinggi di Alor. Hal ini menyebabkan tiket transportasi cenderung menjadi mahal. Sehingga, bulan April, Agustus, dan September menjadi waktu yang bersahabat dengan kantong jika ingin mengincar tiket murah.

Sebagai wisata selam kelas dunia, Kabupaten Alor terkenal dengan 42 situs selam yang telah terdaftar dan masih banyak yang belum dieksplor. Lantaran keindahan pemandangan bahwa lautnya, Alor mendapatkan penghargaan sebagai tempat menyelam terpopuler di Anugerah Pesona Indonesia tahun 2016.

Mengenal Destinasi Wisata di Alor

Kendati terkenal dengan situs selamnya, wisata di Kabupaten Alor sebenarnya tidak hanya di sektor bahari saja. Ada juga wisata budaya ke Desa Takpala, Desa Bampalola, dan Desa Kopidil; Museum 1000 Moko; Al Quran ratusan tahun di Desa Alor Besar; Air Terjun Binafui; deretan pantai cantik seperti Pantai Maimol dan Pantai Welolo; island hopping ke Pulau Ternate, Pulau Pura, dan Pulau Kepa.

Kepulauan Alor terdiri dari 20 pulau dan 17 kecamatan. Di antaranya hanya sembilan pulau yang dihuni, yaitu Alor, Pantar, Pura, Terewang, Ternate, Kepa, Buaya, Kangge, dan Kura. Sementara sebelas pulau tak berpenghuni lainnya adalah Sikka, Kapas, Batang, Lapang, Rusa, Kambing, Watu Manu, Batu Bawa, Batu Ille, Ikan Ruing, dan Nubu.

Kepulauan di Alor terdiri dari dua pulau besar, yaitu Alor dan Pantar, yang mengapit gugusan pulau-pulau kecil dalam Selat Kumbang, atau warga setempat menyebutnya dengan mulut kumbang. Selat ini terletak di Desa Alor Kecil dan Pulau Kepa. Pulau Alor sendiri dihuni oleh sejumlah kelompok etnis sub Flores yang masih melestarikan cara hidup tradisional mereka, salah satunya masih menghasilkan pakaian dari kulit kayu yang dikenal sebagai Pakaian Ka.