Thamrin Koho: Petani-Petani Muda Potensial Majukan Sektor Pertanian Alor

TANAM SERENTAK - Kodim 1622/Alor  bersama Dinas Pertanian serta para kelompok tani melaksanakan penanaman serentak jagung dan kedelai, di Desa Hula, Kecamatan  Alor Barat Laut, akhir 2015. (Foto: tniad.mil.id)
TANAM SERENTAK – Kodim 1622/Alor bersama Dinas Pertanian serta para kelompok tani melaksanakan penanaman serentak jagung dan kedelai, di Desa Hula, Kecamatan Alor Barat Laut, akhir 2015. (Foto: tniad.mil.id)

Alor Selatan, ALOR DAILY ** Siapa sangka, para petani muda di Kabupaten Alor, sangat potensial memajukan sektor pertanian di Kabupaten Alor. Mereka bergerak tanpa selalu dengan bantuan pemerintah daerah dan mampu mengembangkan market dalam skala lumayan. Sebuah kabar baik bagi ketahanan pangan Alor, selain sumberdaya lautnya.

“Sektor pertanian sangatlah penting bagi warga Alor. Artinya, pertanian merupakan kebutuhan masyarakat yang harus terpenuhi. Pertanian adalah kebutuhan primer kita yang tidak bisa tidak harus diupayakan pemenuhannya untuk menghidupi warga,” ujar Staf Pengajar SMK Negeri Maleipea, Thamrin Koho, Senin (10/10/2016).

Menurut pengamatan guru yang mengajar matapelajaran pertanian tersebut, pembangunan sektor pertanian di Alor mulai membaik. Misalnya, kini mulai lahir petani muda dengan semangat baru dan kerja keras.

“Sekarang sudah mulai menggeliat petani-petani muda dalam usaha budidaya tanaman sayuran dan tanaman hortikultura lainnya,” ungkapnya.

Kontribusi para petani muda itu, sambungnya, contohnya dapat mengurangi pengangguran. Mereka mempekerjakan tenaga kerja, sekaligus meningkatkan pendapatan warga.

“Dan tentunya ada retribusi untuk daerah dengan menjamurnya sayur-sayuran di pasar-pasar,” kata Thamrin.

Staf Pengajar SMK Negeri Maleipea, Thamrin Koho (tengah). (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Staf Pengajar SMK Negeri Maleipea, Thamrin Koho (tengah). (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Lebih lanjut, ia menuturkan, sistem pemasaran para petani muda telah seperti pemasaran pada umumnya. Meski sebagian besar bergerak secara personal, belum berbadan hukum, tapi kemandirian mereka dapat dikatakan luar biasa.

“Ada tangan kesatu dan kedua, akhirnya ke pasar umum dan ke tingkat konsumen,” ucapnya.

Kemiri dan Jambu Mete

Pada 2011, Pemerintah Kabupaten Alor merilis data pertanian yang menunjukkan bahwa kemiri banyak terdapat di Kecamatan Alor Selatan dan Alor Barat Daya. Komoditas berikutnya yang menjadi unggulan, yaitu jambu mete yang juga memiliki tingkat produksi cukup tinggi dan terdapat di Kecamatan Pantar Tengah, Alor Barat Daya, dan Alor Timur.

Sementara untuk produk unggulan lain, seperti vanili di Kecamatan Alor Selatan, masih memiliki tingkat produktivitas rendah dengan jumlah produksi, 43 ton per tahun.

Sebelumnya, pertanian sedikit diulas dalam Materi Ekspose Bupati Alor pada Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan Departemen/Lembaga terkait lainnya yang dipresentasikan di Jakarta, 31 Mei 2005.

Materi tersebut berjudul ‘Pokok-pokok Kebijakan dan Strategi Pembangunan Daerah Dalam Rangka Percepatan dan Pemantapan Pelaksanaan Pembangunan Daerah Tertinggal Kabupaten Alor tahun 2005-2009 Provinsi Nusa Tenggara Timur’.

Menurut materi ini, secara geografis, kondisi Alor merupakan daerah dengan pegunungan tinggi, dibatasi lembah juga jurang yang cukup dalam dan sekitar 60 persen wilayahnya mempunyai tingkat kemiringan di atas 40 persen.

Dataran tinggi Alor merupakan daerah yang cocok untuk pengembangan pertanian, karena mempunyai tingkat kesuburan tinggi, sedangkan daerah lereng lebih cocok untuk pengembangan sistem terasering.

Iklim yang tidak menentu merupakan hambatan atau masalah yang klasik di Alor. Selain itu, curah hujan yang tidak menentu dan merata di mana musim penghujan relatif lebih pendek daripada musim kemarau. Keadaan geografis yang berbukit dan wilayah yang terjal merupakan rintangan untuk pencetakan atau perluasan lahan sawah dan ladang untuk tanaman pangan.